TUMPANGSARI PENANAMAN SELA DI PERKEBUNAN JATI – TANAMAN APA YANG COCOK UNTUK DITANAM DI KEBUN JATI

Pohon jati bernilai ekonomi tinggi karena menjadi kayu yang paling banyak dipilih, sehingga harga jualnya relatif paling tinggi diantara kayu dari tanaman jenis lain.

Kreativitas dan inovasi perlu dikembangkan dan diwujudkan oleh para pengelola dan pemelihara kebun jati, dalam rangka meningkatkan pendapatan, kesejahteraan dan optimalisasi pemanfaatan aset dan waktu secara produktif.

Areal di kawasan hutan (pohon jati muda umur 1-5 tahun) merupakan areal potensial untuk ditanami komoditas tanaman pangan dan tanaman obat dan rempah. Pada saat pohon kayu masih berumur 0—2 tahun, pada saat itu pohon kayu masih belum terlalu besar, tajuknya masih kecil sehingga cahaya matahari masih dapat dengan optimal menyinari tanaman lainnya. jenis tanaman tumpangsari yang dapat digunakan dengan tepat, yaitu

  1. Buah-buahan ; pepaya, melon, semangka, pisang, vanili
  2. Sayuran ; sayuran daun, sayuran umbi, dan sayuran buah. Sayuran buah yang dapat digunakan adalah cabai merah, cabai keriting, cabai rawit, mentimun, terung, dan tomat. Sayuran daun yang dapat digunakan adalah sawi, bayam, kangkung, pakcoy, kailan, kol daun, kol bunga, dan brokoli. Sementara, sayuran umbi yang dapat digunakan adalah kentang, ubi jalar, talas, lobak, dan wortel.
  3. Kacang-kacangan ; kacang tanah, kacang hijau, koro, kedelai, kacang panjang, dan buncis.
  4. Empon-empon / Rimpang; yaitu berbagai macam jahe, lengkuas, temulawak, kunyit, dan kencur. Ada juga rimpang yang dapat ditanam pada saat pohon sudah bertajuk rimbun atau berumur 3 tahun ke atas, yaitu temu putih, temu mangga, dan temu hitam.

 

Manfaat Tumpangsari Jahe Emprit dan Kencur pada Kebun Jati.

 

Menurut Lembar Informasi Kanoppi , Edisi 2: Januari 2016 yang ditulis oleh Gerhard E. Sabastian, Suci Anggrayani, Riyandoko, tentang Manfaat Pemeliharaan Jati dan Tumpangsari Jahe Emprit serta Kencur pada Kebun Jati. Salah satu praktik pengelolaan kebun jati yang sudah dilakukan oleh petani di Indonesia adalah melakukan tumpangsari dengan tanaman semusim. Tanaman semusim yang lazim ditumpangsarikan dengan tanaman jati (Tectona grandis) yaitu : tanaman palawija, tanaman pangan, dan tanaman empon-empon atau obatobatan. Tujuan melakukan tumpangsari jati dengan tanaman semusim adalah untuk mendapatkan hasil jangka pendek bagi petani, sambil menunggu waktu panen tanaman jati

 

Jahe emprit (Zingiber officinale var. Amarum) dan kencur (Kaempferia galanga L) adalah jenis tanaman yang dimanfaatkan rimpangnya dengan masa budidaya enam bulan. Seperti tanaman rimpang pada umumnya, tanaman ini dimanfaatkan sebagai bahan herbal (jamu), bumbu masak dan obat-obatan. Tanaman jati merupakan jenis tanaman kehutanan yang banyak dibudidaya di Indonesia. Jati merupakan tanaman tahunan yang memiliki masa panen di atas limabelas tahun. Penanaman jahe emprit dan kencur di bawah tegakan jati merupakan salah satu praktik tumpangsari yang bisa dilakukan, dimana aspek budidaya masingmasing jenis tanaman harus diperhatikan. Pemeliharaan jati, jahe emprit dan kencur akan saling mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut. Kehadiran tumpangsari jahe emprit dan kencur di bawah tegakan jati selama enam bulan menghasilkan pertumbuhan jati lebih baik dibanding tujuh bulan pertumbuhan jati tanpa tumpangsari. Selama periode tumpangsari, perlakuan pemangkasan cabang 50% dan penjarangan 25% menunjukkan pertumbuhan terbaik (3,6 cm) dan diikuti perlakuan pemangkasan cabang 60% dan penjarangan pohon 25% diurutan kedua (3,3cm). Dilihat dari produksi jahe emprit dan kencur, hasil ujicoba menunjukkan bahwa perlakuan pemangkasan cabang 60% dan penjarangan pohon 25% menghasilkan produksi rimpang terbaik yaitu jahe emprit 0,1 kg dan kencur 0,024 kg. Pemangkasan cabang dan penjarangan pohon membantu cahaya matahari masuk ke permukaan tanah yang mempengaruhi pertumbuhan jahe emprit dan kencur. Sedangkan pada Pengaruh pemangkasan cabang, pengurangan batang jati dan tumpangsari jahe emprit terhadap pertumbuhan tanaman jati dan produksi jahe emprit di Gunungkidul, menunjukkan bahwa ada dua kombinasi perlakuan yang menghasilkan pertambahan pertumbuhan lilit batang terbesar (1,91cm) yaitu : (i) tanpa pemangkasan cabang – pengurangan batang 19% – tanpa pemupukan jahe; dan (ii) pemangkasan cabang 60% – pengurangan batang 19%- pemupukan jahe. . Walaupun kedua kombinasi perlakuan tersebut menghasilkan pertambahan pertumbuhan lilit batang yang sama besar, namun kombinasi perlakuan dengan pemangkasan cabang 60% dapat menghasilkan produk batang kayu tanpa mata tunas sehingga mempengaruhi harga jual yang lebih tinggi. Hasil ujicoba juga menunjukkan bahwa pengaruh tumpangsari jahe emprit yang ditanam di bawah tegakan jati dengan perlakuan pemupukan selama enam bulan menghasilkan pertambahan pertumbuhan lilit batang jati lebih tinggi dibandingkan enam bulan pertumbuhan tanpa tumpangsari. Hal tersebut dapat dikarenakan pupuk yang diberikan kepada jahe emprit juga diserap oleh jati sehingga pertumbuhan jati pada enam bulan periode tumpang sari lebih tinggi dibandingkan enam bulan tanpa tumpang sari. Pemangkasan cabang, pengurangan batang jati dan pemupukan berpengaruh kepada produksi rimpang jahe emprit. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa pemangkasan cabang 60%, pengurangan batang 19% dan pemupukan jahe emprit mampu memberikan produksi rimpang terbaik dibandingkan kombinasi perlakuan lainnya yaitu 0,07 kg. Jadi praktik pemangkasan cabang, pengurangan batang jati dan tumpangsari jahe emprit yang dipupuk memberikan manfaat dalam meningkatkan pertumbuhan lilit batang jati; kualitas kayu yang dihasilkan; dan meningkatkan produksi rimpang jahe emprit

 

Manfaat Tumpangsari Vanili Kebun Jati.

 

Vanili  sangat  prospektif  dikembangkan.  Fakta  membuktikan,  vanili  Indonesia kualitasnya tertinggi di dunia.  Vanili pun tidak membutuhkan lahan luas. Lantaran harganya melambung, maka panen minimal pun  sudah  memadai.  Ini  berkaitan  dengan  luas  lahan  yang  dibutuhkan.  Cukup dengan  luasan  seperempat  hektar,  pekebun  sudah  dapat  menanam  1.000 tanaman dan menghasilkan sekitar 600—1.000 kg buah.  Yang penting, lahan memenuhi kriteria layak tumbuh vanili.

 

Tanaman vanili memerlukan waktu 3 bulan untuk proses pemasakan buah dan meningkatkan kualitasnya.

Oleh karena itu, dalam waktu ini pohon vanili harus selalu dijaga agar kering. Setelah itu, periode hujan 8 – 10 bulan diperlukan vanili untuk proses pertumbuhan tanaman serta pembentukan buah. Rata-rata curah hujan yang dibutuhkan berkisar antara 2000-3000 mm/tahun dengan kelembaban 80%. Sedangkan tanaman panjatan berfungsi untuk mempermudah pertumbuhan vanili karena sifatnya yang merambat dan membutuhkan media cukup kuat untuk menopang. Tanaman panjatan yang dianjurkan seperti, jati. Tumpangsari Vanili pada pohon jati akan proteksi terhadap penyinaran matahari secara belebihan dan dengan didukung iklim yang sesuai bagi pertumbuhan tanaman vanili dengan 3 bulan berturut-turut atau lebih, tak turun hujan sedikit pun. Kondisi ini akan meningkatkan kadar vanilin buah. Banyak lokasi di tanahair yang layak untuk vanili. 

 

 

(Visited 2.423 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Thx to contact www.alamhijaumakmur.com, how can I help you?